Tentang Bapak

Bertepatan dengan Hari Ayah 12 November 2024, ku tulis tentang sosok bapakku sebagai bentuk rasa bangga telah memiliki sosok bapak yang sangat hebat, tiada dua nya, dan bagiku seisi dunia mesti tau.

Apalagi yang bisa menggambarkan selain bapak adalah sosok yang hebat?

Hmmm, bagiku tentu banyaaak sekali. Pernah ku mendengar bahwa "sosok cinta pertama kepada laki-laki bagi anak perempuannya itu adalah ayahnya", that is right? sampai saat ini dengan sangat dipastikan jawabanku adalah... iya!

Untuk menjabarkan betapa hebatnya bapak ku, ia merupakan sosok yang baik, paling tulus, kuat, tegar, sabar, serba bisa, tekun, ulet, dan senang membantu orang lain. Untuk aku yang merupakan anak perempuan satu-satunya, ia sosok yang sangat melindungi anaknya semaksimal mungkin. Bahkan setelah aku berkehidupan rumah tangga, sisi protektifnya masih terasa.

Bapak memang orang yang sedikit berbicara, namun dalam tindakannya sangat luar biasa. Tidak pandai berkata-kata apalagi mengungkapkan rasa sayang. Meski begitu, bentuk kasih sayang yang ia berikan dengan caranya sendiri tentu sangat aku rasakan dengan baik.

Aku berada dititik sekarang tentu terdapat peran bapak didalamnya. Aku gak akan seperti ini jika tanpa bapak.

Dari sejak kecil, bapak sangatlah berperan banyak. Ia yang mengajariku shalat, mengaji, melatih untuk bisa menulis dan membaca, membantu mengerjakan PR, antar jemput sekolah, selalu menengok dan membawakan baju ketika aku kegiatan kemping, mengajariku mengendarai motor dan mobil, dan masih banyak lagi.

Bapak merupakan madrasah pertamaku untuk belajar dan berpendidikan.

Saat aku SD sampai SMP, ia selalu membawaku untuk ikut ia kerja kemanapun. Senangnya kala itu karena bisa menemani bapak sekaligus jalan-jalan, dan bonusnya dapet jajan yang aku mau.

Salah satu petuah bapak yang masih dengan jelas masih teringat saat aku memasuki masa remaja adalah "Selama kamu sekolah, kamu gak boleh pacaran ya". Ya, saat itulah nampaknya bapak mulai resah ketika anak perempuannya yang dimasa depan nanti akan menjadi tanggung jawab orang lain. Sejak itu bapak sangat sensitif sekali kalo aku sudah mulai bergaul dengan banyak teman, termasuk lawan jenis. Ia pun tak segan-segan untuk mengungkapkan keresahannya agar aku bisa berhati-hati dan mengutamakan untuk fokus sekolah dan masa depan.

Ada satu kejadian yang masih teringat persis saat aku remaja. Saat itu pekerjaan bapak adalah mengantarkan barang ke luar kota, yang mana ia menjadi sering bepergian menggunakan mobil pick up. Dengan begitu, aku berangkat sekolah otomatis diantar oleh bapak dengan mobil pick up nya. Aku yang saat itu berpikir bahwa mobil pick up itu mobil yang kayak "engga banget", so aku menjadi gengsi. Pada akhirnya aku meminta bapak untuk jangan mengantarku sampai gerbang sekolah karena takut dilihat teman.

Beberapa minggu berjalan, nampaknya bapak menyadari itu. Saat ia mengantar, bapak bertanya "kenapa kamu gak mau diantar sampai gerbang sekolah? gengsi ya dianter bapak pake mobil ini?", sontak saat itu aku ga bisa berkata apa-apa dan pergi meninggalkannya begitu saja. Mengingat lagi hal itu rasanya sedih banget udah bikin bapak patah hati.

Meski begitu, ia tak goyah untuk memberikan kasih sayang yang ekstra untuk anaknya. Pulang telat dikit di telponin, yang kalo sampe gaada matahari pasti dijemput dimanapun berada. Saat itu teman-temanku yang lain nampaknya tidak mendapatkan perlakuan dari orang tua seperti bapak. Aku yang berpikir "berlebihan banget deh, toh anak-anak yang lain juga dibiarin bebas, enak banget kayaknya". Hmmm sekaraaang aja flashback semua itu, betapa diperlakukan bagaikan ratu ya aku. Udah tepat banget deh bapak sudah seperti itu, gak salah!

Selama ini, bapak jarang sekali marah. Mentok-mentok kalo aku ngeyel dan bikin kesel, ya diem. Tidak pernah sekalipun bapak mencubit atau apapun menyakiti berupa fisik sebagai bentuk teguran kepadaku. Melotot juga jarang banget, itupun pernah saat aku kecil.

Dalam keadaan sedang minimpun tak pernah bapak melarangku untuk membeli apapun yang aku mau. Sering aku diajak untuk berjalan-jalan atau pergi ke minimarket, ia selalu dengan lantang bilang kepadaku untuk membeli apapun yang aku mau. Dan dengan polosnya aku membeli apa-apa yang harganya mahal. Dasar aku. Tapi aku yakin, bapak sungguh tidak keberatan. Yang ada, ia ikut merasa senang.

Oh iya, bapak itu serba bisa. Meski dalam hal bersosialiasi ia sangat pendiam, tapi dalam kesendiriannya ia sangat tekun dan rajin menghasilkan sesuatu. Saat situasi ekonomi keluarga sedang pas-pas an, bapak mengandalkan pikiran dan tenaga nya sendiri untuk membuat keperluan rumah tangga, termasuk apa yang mama butuhkan. Ia bisa mendesain rumah, merenovasi rumah, membuat pintu, lemari, kompor sumbu, oven kue, pagar bambu, menservice berbagai barang eletronik, service mobil, motor, termasuk memperbaiki alat-alat rumah tangga lainnya, semua itu ia bisa lakukan sendiri. Dan hasilnya... perfect! rapi dan tertata.

Bapak memang sangat diandalkan didalam keluarga. Bahkan dalam keluarga besar, bapak yang selalu paling terdepan untuk urusan yang bersifat action. Ditambah lagi dengan sifatnya yang jujur dan sabar, ia tidak pernah ada celah untuk memiliki kesan yang tidak baik dengan siapapun.

Bapak tentunya memiliki selera musik tersendiri. Ia senang sekali mendengarkan lagu Ebiet G Ade, Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kalo aku mendengar lagi lagu-lagu itu pasti teringat bapak.
....

Bapak...
Dibalik semua itu nyatanya bapak tentu memikul beban dipundak dan kepala yang sangat berat sekali. Semakin hari, bapakku ini sudah mulai nampak sangat menua. Melihatnya membuat air mata ini tak terbendung. Badannya semakin mengecil, rambut memutih dan menipis, serta kulitnya yang semakin keriput dan badan membungkuk. Tapi dengan begitu bapak masih saja selalu ingin mengantarku pulang dikala aku berkunjung pulang kampung. Dengan penglihatan yang semakin buram, tangan dan kaki melemah, ia selalu menampakkan semangat dan tertawa ketika aku mengiyakan apa yang ia inginkan.

Bapak tidak begitu senang dengan kemewahan. Ia sangat senang dengan kesederhanaan dan kebijaksanaan. Menurutku, itulah yang bapak inginkan, pun untuk semua anak-anaknya.

Aku sangat bersyukur dan beruntung memiliki sosok yang seperti bapakku ini. Mungkin selama ini ada masa dimana aku belum menerima sepenuhnya atau terlalu berekspektasi tinggi. Tapi melihat semua yang sudah bapak lakukan kepadaku, aku tak bisa membalasnya dengan setimpal. Nyatanya, mungkin saat ini pun aku masih belum bisa menjadi sosok anak yang bapak harapkan.
Jadi tolong, beri aku kesempatan untuk terus bisa menunjukkan yang terbaik untuk bapak. Teruslah sehat dan pajang umur ya, pak.

🤍🤍🤍


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membentuk Kesiapan Mental Anak Muda

Kemerdekaan Diri