Kemerdekaan Diri
Merdeka itu....
Bebas, tidak merasa terjajah, mampu berdiri sendiri, dan tidak merasa terbebani dengan hal apapun. Setuju?
Semua orang juga pasti tau sih apa itu merdeka, begitupun makna merdeka bagi diri sendiri. Nah masalahnya, menjabarkannya sih gampang, tapi ngejalaninnya yang susah, eaaaa. Masalahnya lagi, kita ini mirisnya pengen ambil yang gampangnya aja, jadi kebanyakan ngekhayal daripada menghadapi kenyataan. Hahaha ups maaf. Nyatanya ini juga sebagai self reminder, wkwkwk.
Sebenarnya apapun yang kita hadapi itu bisa dengan simpelnya dijalanin, yang bikin susah itu sebenarnya adalah diri sendiri. Jadi kalo 'ngerasa' ada hal lain diluar diri lo yang mempersulit perjalanan lo, entah itu orang lain, keadaan atau apapun, itu sebenarnya karena diri lo yang menganggap semua itu sulit.
Hmmm... Menyadari hal itu bagi gue ternyata butuh proses yang cukup panjang. Bahkan sampai saat ini masih terus belajar. Ternyata memang gak semudah itu ngejalaninnya, tetep mau gak mau harus ngalamin up and down nya. Ibaratkan proses kita bertumbuh dan berkembang, gak mungkin hari kemaren baru bisa merangkak besoknya udah bisa lari marathon. Perlu waktu untuk mencerna apalagi disertai dengan pengalaman semasa hidup yang cukup kompleks.
Kenapa gak mudah? Kita sebagai manusia penuh dengan ketidaktahuan, meskipun punya rencana dan kesiapan yang matang, tetep aja ga ada yang tau pasti sekalipun udah ada ramalan. Rasa ketidaktahuan tetap tidak akan terbendung oleh apapun. Ditambah lagi, rasa keinginan manusia yang selalu ingin ini dan itu, begitupun selalu merasa belum puas akan sesuatu. Makanya ada istilah belajar itu gaada batasnya, selagi kita hidup, sepanjang masa, setiap fase, selama kita didunia, disitulah kita akan terus belajar, karena itulah tujuan kita hidup.
Jadi kalo ada masalah, itu berarti kamu masih layak untuk terus hidup.
...
Sebagai makhluk sosial, kita pasti perlu belajar dari, dengan, dan untuk orang lain. Hal ini juga berkaitan dengan kemerdekaan diri kita. Berkaitan dengan orang lain ini, memerlukan seni sehingga dapat dijalankan dengan baik. Karena ya siapa yang gak mau baik-baik ngejalanin idup dengan orang disekitar kita.
Seni dalam berelasi itu intinya gimana caranya supaya bisa menjalankan relasi sama orang lain dengan baik dan berkelanjutan dengan cara diri sendiri. Tiap orang pasti punya cara yang berbeda namun jika terjalin dengan baik akan nampak indah. (so puitis bgt)
Seni berkehidupan dengan orang lain ini, berkaitan juga dengan kebutuhan yang ada didalam diri kita. Makanya, ga semua orang itu bisa diperlakukan dengan sama. Ada yang jadi deket ada yang engga. Ada yang jadi temen biasa aja, ada yang jadi temen hidup, cie. Tergantung kebutuhan masing-masing. Pasti akan berbeda-beda, beda cara, beda tujuan, berbeda-beda namun tetap satu jua. Saling menghargai, mentoleransi dan tidak menjatuhkan satu sama lain.
Udah tau sendiri kan ya itu mah?
Nah masalahnya, terkadang/sering kita secara sadar gak sadar masih melakukan hal yang keliru dalam menjalani itu. Dalam berkehidupan dengan orang lain, masih aja ada masa nya menganggap orang lain salah, menginginkan orang lain agar memenuhi ekspektasi kita, bahkan mengcancel orang karena dirasa toxic yang bikin hidup kita menjadi lebih ribet. Hal seperti itu dilakukan sebagai langkah untuk mencapai kemerdekaan diri. Meskipun sebenarnya gak ada salahnya juga, semua yang dilakukan itu memang hak, biar hidup kita senang, mental aman ya kan?
Tapi kenapa dianggap keliru? (sorry kalo ga sependapat)
Sejauh ini yang aku pahami, kita ga bisa sembarang menyalahkan orang lain, karena orang yang kita anggap salah, itu bukan karena memang orangnya salah, tapi karena orang itu memiliki tingkat kesadaran yang berbeda dengan kita. Bukannya langsung menyalahkan lalu kasih pelajaran semau kita, tapi kasih pengertian dan kita juga harus belajar mengerti akan proses kesadaran orang lain.
Orang yang gak memenuhi ekspektasi kita bukan hanya sekedar karena orang itu emang gak sesuai sama kita, atau gak sesuai sama batasan kita, jadi gak bisa ditoleransi. Tapi kitapun harus menyadari bahwa mungkin orang lain tidak sesuai dengan ekspektasi kita, itu karena kita sendiripun yang tidak sesuai dengan ekspektasi orang lain.
Kita yang mengcancel orang yang dirasa toxic sebenarnya bukan karena orang itu yang pure toxic. Orang toxic gak nyadar kalo dirinya toxic. Jadi kalo emang dirasa toxic, itu karena kamu belum bisa menghadapi/menerima orang itu hadir dikehidupan kamu dengan baik.
Intinya, disini kita belajar bahwa ketika berhadapan dengan orang lain kita harus melihat dari berbagai sisi, jangan hanya fokus menilai dari sisi diri kamu aja. Bukan berarti mengenyampingkan kepentingan diri sendiri, justru dengan melihat dari sisi yang lain membuat kita menjadi lebih terarah dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Bukan hanya untuk kebaikan orang lain, tapi sudah pasti juga untuk kebaikan diri sendiri. Tau bagaimana kita harus menjalin relasi dengan setiap orang tanpa harus banyak drama dan salah paham.
Seperti yang tadi dibilang, dalam lubuk hati yang terdalam sebenarnya ga ada orang yang pengen punya relasi yang buruk ama orang lain. Pasti pengen baik-baik aja, karena kita sebagai manusia pasti akan saling membutuhkan dan harus saling memberikan kehidupan yang bisa bermanfaat satu sama lain, dan juga saling berpegang tangan untuk saling memerdekakan.
Kayak Indonesia ini yang bisa merdeka, dijunjung dan diperkuat oleh seluruh rakyat setanah air. Melawan orang lain dari negara lain itu karena keserakahan mereka yang tidak semena-mena, menindas dan menyiksa, makanya harus dilawan.
Seperti hal nya pada diri sendiri, kita memang harus melawan keserakahan yang meresahkan dengan tujuan untuk kedamaian, bukan untuk balas dendam, terus berperang dan saling menyiksa. Karena keserakahan, tidak hanya menyiksa orang lain, tapi juga menyiksa diri sendiri.
Pada akhirnya setiap orang punya porsinya masing-masing dalam berkehidupan. Mau besar ataupun kecil punya makna nya tersendiri. Besar belum tentu berjaya, kecil belum tentu tak mampu. Dunia ini penuh ilusi sepertinya memang benar, karena kita gak bisa tau segalanya akan semua hal, jangankan menilai orang lain, menilai dan mengevaluasi diripun tiada usai.
Jadi, ketika berada dalam fase yang dirasakan tidak baik-baik saja, mau berlarut-larut atau cepet move on itu tergantung dirimu sendiri, bukan orang lain. Orang lain hadir hanya sebagai support system yang ngga ngeganggu kehendak kita. Biar gak kelamaan, jangan terlalu lama menutup diri sendiri, buka diri dengan mau untuk menerima secara perlahan. Dan kita harus tau bahwa waktu itu gak diciptain buat nunggu. Ia terus berjalan terlepas apakah kita mau mengejarnya dengan maksimal atau menyia-nyiakan begitu saja.
Teruslah berjalan meski dipenuhi dengan ketidak tahuan.
Kita baik di hari ini, besok belum tentu. Begitupun kita hidup hari ini, besok belum tentu.
Kita merdeka hari ini, besok belum tentu. Tapi dengan terus berusaha untuk memerdekakan diri dengan cara yang baik, tidak bersinggungan dengan orang lain, tau akan pentingnya saling menghargai dan menjunjung kedamaian membuat kita tidak akan berlarut-larut ketika kita terjatuh.
Kedepannya masih banyak hal-hal baru yang akan kita temui, ketemu lagi dengan orang baru, tempat yang baru, tantangan yang baru, pokoknya apapun yang serba baru, siap-siap untuk melapangkan hati untuk menerima pembelajaran baru, dan juga siap-siaplah untuk menjadi diri sendiri dengan versi yang lebih baik. Semangat untuk merdeka!
Komentar
Posting Komentar