Membentuk Kesiapan Mental Anak Muda

Anak muda zaman sekarang, baik Gen Y atau Gen Z saat ini nampaknya banyak sekali hal-hal yang menjadi tantangan tersendiri dalam menghadapi masa depan. Gimana engga, seiring berjalannya waktu  kemajuan teknologi semakin berkembang, dan arus informasi semakin tak terkendali membuat kita harus lebih strike dalam menghadapi apa yang akan terjadi.

Kemajuan teknologi dan informasi memang tak bisa terhindarkan, mereka akan terus maju dan berkembang tiada hentinya. Tapi masalahnya kita sebagai manusia, apa yang akan dilakukan dalam memanfaatkan teknologi dan informasi itu?

Apakah kita juga sudah mampu mengikuti kemajuan teknologi dan informasi dengan baik?

Apakah sudah merasa dimudahkan dalam menjalani kehidupan kita secara keseluruhan, atau justru menyulitkan?

Mari kita bahas realitanya.

Realitanya, memang dalam beberapa hal kita bisa memanfaatkan teknologi dan informasi dengan baik, begitupun bisa mengikuti dengan mudah. Banyak juga kok anak muda yang sukses berkat kemajuan teknologi. Contohnya yang punya usaha dagang bisa lebih laku berkat adanya live streaming, memanfaatkan jasa sendiri sebagai konten kreator yang bisa sukses tanpa banyak modal, dan banyak lagi.

Nah, yang jadi masalahnya juga gak sedikit. Disatu sisi ada kemajuan yang sangat pesat dan lebih instan, tapi disatu sisi adanya ketertinggalan yang dialami oleh banyak orang. Ketertinggalan itu adalah berkaitan dengan kesiapan secara mental dari kita sebagai manusia.

Teknologi sih bisa instan, tapi kita sebagai manusia dalam menghadapi sesuatu apakah bisa se-instan itu?

Ekspektasi kita yang pengen bisa instan mencapai apa yang diinginkan membuat kita bekerja lebih keras baik secara fisik maupun pikiran. Apalagi dihadapkan dengan gaya hidup dikehidupan sosial saat ini yang sudah terpapar dengan kehidupan maya dimedia sosial, membuat orang berlomba-lomba ingin menunjukan sisi terbaik dirinya, atau ada istilah flexing. Semua itu tentu harus dipikirkan gimana caranya supaya seimbang antara kehidupan media sosial dan realita. Dan itu tidaklah mudah.

Tapi kita juga bisa lihat dimedia sosial saat ini. Makin sini mungkin sudah terasa gimana sulitnya memaksakan diri untuk menjalani kehidupan sekarang, dan sebagian orang sekarang udah mulai speak up. Dan ternyataaa, banyak anak muda sekarang yang bisa dibilang kena mental.

Istilah-istilah seperti stress, overthinking, insomnia, burnout, toksik, bla bla bla, kayaknya udah jadi makanan sehari-hari anak muda sekarang. Kalo melihat fakta/data yang ada, banyak sekali yang pada akhirnya menunjukkan "oh pantesan".

Contohnya, banyak sekali orang terdampak Covid-19 yang terkena PHK massal, begitupun sektor pekerjaan lainnya yang ikut terdampak, banyak usaha yang akhirnya gulung tiker (contohnya sepertinya banyaknya bisnis hotel atau tempat wisata yang tutup sampai saat ini) harga beli konsumsi sehari-hari makin naik, tingkat perceraian yang semakin tinggi, hutang masyarakat yang semakin tak terkendali karena kredit/pinjol, judi online, isu lingkungan dengan cuaca ekstrim dan kualitas udara yang sudah mengganggu kondisi kesehatan, pemerintah sebagai tumpuan malah ada beberapa oknum yang korupsi, yang kaya makin berkuasa yang miskin makin terinjak. Wahhh pupus sudahhh. Adalagi tambahan gaes?

Semua itu tak bisa terhindarkan. Kita harus hadapi. Memang berat, tapi kalo dibiarin jadi tambah berat.

Gue mau bahas dikit tentang "Apakah mental kita lebih lemah dibandingkan dengan orang-orang zaman dulu?"

Zaman dulu mah ga ada istilah-istilah stres, mental illness, trust issue atau apapun itu. Hidup baek-baek ajatuh. Anak banyak juga gak jadi masalah, makan seadaanya masih bisa hidup dengan baik, dikerasin ama orang tua ga kenapa-kenapa tuh nurut-nurut bae, dlsb.

Kalo ada yang berpikiran kayak gitu, kita kasih pengertian dikit-dikit yuk.

Gini, zaman dulu ama sekarang gak bisa dibandingin gitu aja. Kalo ngomongin soal mental orang-orang zaman dulu, justru gak seberat seperti sekarang.

Loh? apakabar dengan orang dulu yang mengalami masa penjajahan, masa-masa yang justru lebih sulit?

Iya... orang dulu memang menghadapi situasi yang berat juga. Tapi, mereka menghadapi secara bersama-sama, real, gak mikir ini mesti gimana itu mesti gimana, yang penting ngikut komando buat ikut nyerang, atau menyelamatkan diri. Susah ya susah semuanya. Ekonomi seadaanya ya semua orang ngalamin, kalo ada orang kaya pun ya fokus nyelametin diri sendiri. Semua bekerja keras untuk satu tujuan yang sama, yaitu merdeka, untuk kepentingan bersama. Jadi kalo dulu mah mungkin lebih banyak action nya, mikirnya mah kayaknya gaada waktu.

Beda ama sekarang, segaaaaala hal musti dipikirin, buat diri sendiri aja ga beres-beres. Itu ya karena kehidupan sosial saat ini yang semakin erat saling keterkaitan dalam berbagai hal yang harus dikoneksikan, harus akur. Apalagi tiap orang punya pemikiran sendiri yang semakin berkembang dengan banyaknya terpapar informasi. Jangan heran lagi ngeliat orang-orang saling sindir, saling menjatuhkan, dan saling menyakiti, atas dasar untuk menjunjung kebenaran yang ada dalam diri masing-masing.

Jadi gak cuman ngurusin soal makan doang. Ada gengsi, ada keinginan untuk hidup lebih maju, dan gimana caranya biar hidup lebih secure. Keinginan orang dizaman sekarang tentu lebih bebas dan sangat mungkin untuk dicapai. Tapi, dengan kebebasan yang ada justru itulah yang menjadi tantangan tersendiri buat kita sebagai anak muda.

Orang-orang dulu, pada umumnya lebih saklek dibanding sekarang. Mungkin sekarang juga masih ada. Dulu gak dihadapkan dengan banyak pilihan, mau itu kerjaan, atau dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Itu karena masih minimnya informasi yang hanya mengandalkan dari nenek moyang.

Jadi jadi jadi... zaman dulu ama sekarang gak bisa dibanding-bandingkan ya! Ada plus minusnya tersendiri, dan kalo kita mau maju ya kita harus nengok kedepan dengan terus mengusahakan yang terbaik dimasa depan. Masa lalu jadi pembelajaran aja, mana yang bisa diperbaiki, dan mana yang harus tetap dilestarikan.

Lanjut...

Buat Gen Y dan Gen Z, apasih yang bisa kita lakukan biar kita bisa lebih siap secara mental dalam menghadapi masa depan?

Ini nih yang ditunggu-tunggu. Oke aku mau sharing beberapa hal yang bisa dilakukan. Ini berdasarkan apa yang aku pelajarin dari berbagai referensi dan udah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini aku juga masih belajar kok. Jadi kita bisa berjuang bareng-bareng menuju generasi emas, haha.

1. Belajar untuk mengendalikan diri

Faktanya, apa yang ada dihadapan kita mau berdampak baik atau buruk sebenarnya ada dalam kendali kita. Contohnya, kalo mau menjalani relasi dengan orang dengan baik, ya kita jangan jadi orang yang emosian. Kalo mau target kerjaan tercapai, ya jangan males.

Ada salah satu buku yang best banget tentang pengendalian diri, judul buku nya "Filosofi Teras" oleh Henri Manampiring. Di buku itu ada penjelasan yang paling penting adalah tentang dikotomi kendali, hal apa saja yang bisa dikendalikan dan apa yang ngga.

Secara garis besar, hal yang bisa dikendalikan adalah tindakan kita, keputusan kita, perasaan kita, penerimaan kita, pokoknya terkait ama diri kita. Sedangkan yang diluar kendali kita adalah seperti keputusan orang lain, tindakan orang, apa yang terjadi, keadaan ekonomi, sosial, bahkan kesehatan, itu gak sepenuhnya ada dalam kendali kita. Lebih jelasnya, baca bukunya deh.

Pengendalian diri ini perlu untuk dilatih, meskipun kita udah tau, tapi faktanya ngelajalaninnya perlu proses. Simpelnya sih kita harus menentukan respon apa yang akan kita berikan dalam menghadapi sesuatu. Dan kita tau, kalo kita menghadapinya dengan tindakan yang positif itu akan berdampak positif juga baik secara langsung atau tidak. 

Mau orang lain jadinya kecewa atau keadaan tidak berbalik dengan baik kepada kita, yang penting kita udah ngelakuin yang terbaik untuk diri kita.

 

2. Menerapkan hidup minimalis

Melihat kehidupan sekarang yang makin banyak dalam hal apapun, entah itu informasi maupun barang-barang yang ada, kita bisa memilih untuk tidak mengambil/tidak memanfaatkan sebanyak-banyaknya apapun yang ada meskipun itu mudah untuk didapatkan. Banyak belum tentu baik. Semakin banyak hal yang diurusin, makin banyak tenaga dan pikiran yang terkuras dan bisa mempengaruhi kesehatan mental.

Selalu usahakan apa yang dibutuhkan terlebih dahulu. Gak apa-apa sedikit tapi bisa dimaksimalkan dengan baik. Hidup aman tentram dan nyaman. Jangan kebanyakan mau.

 

3. Bangun koneksi yang lebih intens dengan orang lain secara langsung

Gak dipungkiri, dengan adanya media sosial kita jadi mengenyampingkan orang lain yang ada disekitar kita. Coba dalam sehari, berapa waktu yang dihabiskan buat mantengin medsos, bikin status, chattingan sama orang, liat update kegiatan orang lain, dibandingkan dengan orang yang ada dihadapan kita secara langsung?

Jangankan orang dihadapan kita yang terabaikan, kebutuhan buat diri sendiri pun kadang/sering terkorbankan. Lupa makan, lupa olahraga, lupa kerjaan rumah, lupa ngurusin anak, lupa diri, jangan ya. 

Untuk kali ini, cobalah untuk lebih terkoneksi dengan apa yang ada dihadapan kita.


4. Mengetahui privilege dan kemampuan/skill diri sendiri

Jangan salah, privilege itu tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Semua nya punya namun dengan jalan privilege yang berbeda-beda. Gak hanya orang yang kaya atau punya kedudukan, tapi lain dari pada itu. Kita punya fisik yang bisa dimanfaatkan dengan baik pun itu sebuah privilige. Usia yang masih muda, bisa berpenampilan maksimal, bergaul dilingkungan yang secure itu juga privilege. Jadi manfaatkan yang kamu punya dengan baik.

 

5. Terus belajar darimanapun sumbernya

Belajar gak hanya disekolah, gak hanya lewat buku, gak selalu harus berguru kepada guru yang berkompeten, tapi... darimanapun. Dari orang-orang disekeliling kita, yang kadang tanpa disadari banyak pembelajaran hidup yang sangat menginspirasi, gak hanya dari orang yang lebih tua, dari yang lebih muda pun tak kalah banyak pembelajaran yang bisa kita ambil.

Belajar/berpendidikan itu harus seperti padi, semakin berisi semakin merunduk. Jangan songong.

Sekian, semoga bermanfaat. Semangat! 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Diri