Hidup Itu Keras, Jangan Manja!
Sepanjang hidup, kita selalu dituntut untuk hidup kompetitif. Mungkin kita juga udah ngerasain dari kecil yang dituntut oleh orang tua, keluarga, atau kerabat. Kita dituntut buat dapetin nilai bagus di sekolah, harus ngalahin orang lain biar keterima kerja, ngalahin orang lain buat dapetin si dia, dan banyak lagi.
Semua itu beriringan juga dengan serentetan pertanyaan dari orang-orang sekitar kita yang selalu hadir sepanjang hidup, bahkan sejak kita lahir. Ketika lahir ditanya kapan bisa jalan, udah remaja ditanya kapan lulus, menjelang dewasa ditanya kapan punya pasangan, kapan nikah. Udah nikah ditanya kapan punya anak, menjelang lansia ditanya kapan punya cucu, teruuuss aja begitu kecuali yang ga ditanyain adalah kapan meninggal? haha.
Tapi mau gimana lagi yagesya, siklus kehidupan manusia pada umumnya memang seperti itu. Setiap masa harus ada yang dicapai. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu memang suka bikin kesel tatkala kitanya belum siap, tapi ketika kitanya udah siap kita mungkin akan sangat bangga. Nah masalahnya, orang tuh suka nanya hal-hal yang emang belum kita capai, gatau kenapa dah.
Hmmm. Apakah hidup memang sekeras ituuu? Sebalap ituuu?
Sebenernya itu tergantung perspektif masing-masing sih. Hidup mah ya emang begitu, kita harus berusaha semaksimal mungkin karena kita ga bisa hidup cuman modal diem aja. Orang kaya aja kalo idupnya cuman diem ga ngapa-ngapain ya buat apa juga.
Nah, perlu kita tau, sistem hidup kita itu didominasi oleh dua hal:
1. Kapitalisme. Kita perlu aset atau modal untuk mencapai tujuan kita. Persaingan semakin ketat tatkala diluar sana banyak yang bisa mencapai tujuannya dengan sumber daya yang minim tapi hasil yang maksimal. Ibaratkan kayak... Lo punya duit, lo punya kuasa, haha canda.
2. Meritokrasi. Kalo sistem ini lebih mengedepankan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial. Ada masanya kita bisa mencapai sesuatu itu karena pure dari kemampuan/skill yang kita punya. Tanpa ngeliat asal kita darimana, keadaan ekonomi, atau status apapun itu. Ada toh?
Menjalankan hidup dengan kedua sistem tersebut perlu usaha dong. Lalu, apakah usaha yang kita lakukan harus sama seperti apa yang orang lain lakukan karena memiliki siklus hidup yang sama? Apakah harus mengikuti gaya hidup yang dijalankan public figure, artis yang kita idolakan atau siapapun itu?
Menjadikan orang lain sebagai referensi biar kita bisa sesuai dengan ekspektasi orang disekitar kita?
Apakah sanggup? Harus sanggup?
Kalo sanggup sih gapapa, tapi... yakin? hehe
Wahai sahabat-sahabat sekalian, ngejalanin hidup hanya untuk pembuktian kepada orang lain, capek sendiri wak. Gak bakal ada habisnya.
Memang dengan mampu memenuhi ekspektasi orang lain adalah suatu hal yang membanggakan, menyenangkan. Tapi ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi mereka, apakah kita akan hancur?
Toh, kita masih tetap bisa hidup baik-baik saja meskipun tidak memenuhi ekspektasi orang lain, sekalipun itu adalah orang terdekat.
Meskipun punya siklus hidup yang sama, bukan berarti harus punya cara yang sama, timing yang sama, tujuan yang sama. Kalo semua sama ya gak asik. Ibarat cita-cita kita dari sejak kecil aja udah beda-beda. Bayangin kalo semua orang punya profesi yang sama, kan repot. It's simple thing tapi kadang emang hal-hal yang membuat kita pada akhirnya dibandingkan dengan orang lain, ya... bikin overthinking juga.
Gak semua hal didalam hidup mesti dikompetisikan. Karena... setiap orang punya filosofi hidup yang berbeda-beda, punya cara hidupnya masing-masing, dan punya versi terbaiknya sendiri.
Hidup memang penuh dengan permainan, tapi bukan permainan yang baku, dengan goal yang sama, atau level yang sama. Game yang ada didunia ini pun banyak ragamnya, bisa milih gak harus wajib semua main mobile legend. Kita gak selalu dihadapkan dengan kemenangan. Sekarang bisa ajakita menang, besok belum tentu.
Intinya adalah, ketika mencapai sesuatu kita harus fokus dengan apa yang kita lakukan, dengan cara kita, tanpa membandingkan dengan orang lain. Bukan berarti pencapaian orang lain itu tidak berarti, akan tetapi kehadiran mereka itu adalah untuk bisa saling menghargai, mengapresiasi. Sebagaimana manusia yang akan saling membutuhkan.
And last...
Bagaimana cara kita bisa survive untuk mencapai goal dimasa depan?
1. Temukan tujuan hidupmu. Cari prinsipmu, begitupun definisi sukses versimu. Untuk mencapai goals hal yang harus dijawab adalah:
- Specific : what exactly are you trying to achieve? (apa sebenarnya yang ingin kamu capai?)
- Measurable : how will you know when you've achieve it? (bagaimana kamu mengetahui kapan kamu sudah mencapainya?)
- Attainable : is it gunuinely possible to achieve it? (apakah mungkin untuk mencapainya?)
- Relevant : does it contribute to your agency's revenue growth? (apakah berkontribusi terhadap pertumbuhan pendapatanmu?)
- Time-bound : when do you want to achieve this by? (kapan kamu ingin mencapainya?)
2. Kembangkan diri kamu sedikit demi sedikit. Berkompetisi dengan diri kita sebelumnya untuk menjadi lebih baik. Mulai kembangkan mental dan fisik juga biar ga gampang jompo.
3. Menerima kegagalan dan kesulitan dalam hidup. Tetap melangkah kedepan walaupun itu sulit.
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Itu lirik lagu D'masiv. Sekian dan terimagaji.
Komentar
Posting Komentar