Memaknai Kehidupan Pernikahan


Pernikahan adalah fase kehidupan yang membawa kita kepada kehidupan yang baru.

Status baru, peran/tugas baru, suasana baru, begitupun urusan baru, tantangan baru, begitupun petualangan baru.

Menikah membuat kita menjadi orang yg lebih berarti. "Ternyata ada yg mau nikah sama aku, cinta sama aku, dan bersedia menemaniku sepanjang hidup.

Pencarian jodoh yg tak selamanya mudah, sudah tak membuat lagi gelisah. Sudah tak diragukan lagi kalo aku laku juga. Jadi gak jomblo sampe tua". Hmmm. Bahagia rasanya.

Tapi...

Tahukah kamu? Ternyata.. itu semua memang betul2 hanya sebuah prolog.

 

Nyatanya, pernikahan itu memerlukan persiapan yang sangat matang. Ya, meskipun ketika kita menikah tak ada yg benar2 100% siap, akan tetapi bukan berarti kita menikah tanpa adanya persiapan sama sekali. 

Persiapan itu gak hanya sekedar mikirin acara akad dan resepsi. Begitupun tempat tinggal sesudah itu.

Akan tetapi yg sangat perlu diutamakan adalah kesiapan mental.

"Emang kenapa? Ya tinggal jalanin aja. Kehidupan pernikahan udah kebayang kok. Liat di sinetron, film2, drakor, indah2 kok, seru.

Tau juga sih ada drama2nya, ada konfliknya juga. Yaa emg udah saatnya menjalani kehidupan seperti itu kan? Mau apalagi? Sekolah udah selesai, udah kerja, ngapain lagi coba kalo gak nikah? Apalagi temen2 seperjuanganku udah pada nikah juga".

Oke oke. Tenang dulu.

Sekali lagi, menikah perlu kesiapan mental.

Meski sudah terbayang, nampaknya pada saat waktunya tak jarang akan menghadapi kondisi yang tidak terbayangkan sebelumnya. 

Meskipun sebelum menikah sudah mengenal pasangan, bahkan sudah lama, tidak akan menjamin ketika dikehidupan pernikahan akan nampak sama. Karena masa pacaran dan menikah sangatlah berbeda.

Jangan dulu mempertanyaan pasangan kita,

kita sendiri, apakah yakin bahwa kita akan sama seperti pada masa nya kita masih gadis/bujangan ketika udah nikah?

Kitapun tau...

Di masa2 pacaran kita akan selalu menampilkan yg terbaik, melakukan apapun semaksimal mungkin agar pasangan kita tetap mau sama kita. Akan tetapi, ketika sudah menikah tak ada lg yg mesti dibuat2.

Lebih/kurang, cepat/lambat apapun yg ada didalam diri kita (kelebihan dan kekurangan) pasti pasangan akan tau. Dalam hal ini, lebih cepat lebih baik untuk saling tau. Karena gk mungkin waktu dihabiskan untuk terus memikirkan kekurangan dan kelebihan pasangan. Banyak hal lain yg lebih penting diurusin untuk keberlangsungan hidup.

Perlu kita tau, nyatanya...

Masih banyak orang yg menikah karena ingin bahagia,

Ingin menikah karena sbg solusi dari rasa kesepian,

Ingin menikah karena tuntutan orang sekitar begitupun keluarga,

Ingin menikah karena ingin berasa keren punya status baru. Berasa naik level.


Emm. Seriously?

Dan.. perlu kita tau juga, nyatanya...

Masih banyak pasangan yg memutuskan bercerai.

Jangankan hitungan tahun, bahkan hitungan bulan pun ada.

Ada juga yg mempertahankan pernikahan karena terpaksa.

Tak mau jdi beban keluarga, atau karena anak. Ada juga karena gengsi. Begitupun alasan lain.

 

Lantas, bagaimana bisa bertahan dg kehidupan pernikahan yg nampaknya seperti itu?

Diobati dg sekedar menyesap asap rokok, pergi jalan2 sejenak, lari kemanapun melangkah, tetap tak akan lepas dari masalah!

 

Maaf, bukan menakut-nakuti.

Miris rasanya jika pernikahan tidak dianggap serius.

Padahal, dampaknya sangatlah serius.

Apalagi jika menyangkut generasi penerus.

 

Ketika suatu saat generasi penerus hadir, ia hadir tak hanya untuk koleksi. Perlu dirawat, dijaga, di didik, sehingga ia bisa hidup mandiri dan bertanggung jawab hingga dewasa nanti. Dan nampaknya itu bukanlah tugas yang mudah. Perlu kematangan berpikir dan tindakan yg dewasa.

Lalu, bagaimana kita tau bahwa kita sudah layak untuk menikah? Begitupun menjalaninya?

Sebelum kesana, perlu kita tau berbagai faktor yg menjadi permasalahan dalam kehidupan pernikahan, diantaranya perbedaan kepribadian/karakter, pola pikir, situasi sosial, ekonomi, lingkungan pertemanan/pekerjaan/orang ketiga, dan mertua/keluarga. Mungkin tak semua, tapi bisa jadi diantaranya.

Maka dari itu kenapa mental sangat diutamakan.

Karena dengan kesiapan mental, masalah2 yg hadir akan dapat dilalui dg lebih baik, ga banyak drama, dan minim menguras batin. Tidak mudah emosional dan lebih rasional.

Perasaan emosional akan selalu hadir sepanjang hidup. Tinggal tugas kita adalah bagaimana kita dapat mengontrol/mengendalikan emosi itu. Jangan sampai melukai seseorang, dan membuat keputusan/tindakan yg keliru. Memang tak mudah, perlu proses. Makanya kalo memasuki masa pernikahan, sebaik2nya yaitu dg kondisi emosionalmu udah stabil.

Memang, masalah ada menjadikan kita semakin kuat. Lebih berjuang. Akan tetapi jgn sampai waktu dihabiskan dg hal2 yg membuat kita terus merasa lelah hati dan banyak drama. Pada akhirnya, nikah untuk bahagia hanya sekedar lagu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Untuk yg belum menikah:

1. Kenali lebih dalam/lebih perjelas pasangan yg ideal buat kamu.

Bukan so' pemilih. Tapi selagi ada yg bisa diusahakan untuk lebih baik, kenapa engga.

Masih banyak yg memilih pasangan hanya terfokus sama pasangan nya saja, tanpa memperhatikan hal2 lain disekeliling pasangan.

Misalnya:

"Kriteria pasangan aku itu baik, setia, jujur, penyayang, gak pelit, cakep, pinter masak, rajin, dan karirnya bagus."

Gak salah sih, tapi ada hal yg lebih penting.

 

a. Bagaimana dg keluarga nya.

Bagaimana relasi pernikahan antara kedua orang tuanya, bagaimana pasangan menghayati ibu dan ayahnya, bagaimana perilaku pasangan thd org tuanya, begitupun bagaimana responnya pada saat menghadapi masalah di keluarga.

Ini bukan kepo. Hal ini penting karena gaya hubungan orang tua pasangan akan sangat berpengaruh kepada perilaku pasangan pada saat menjalani pernikahan dg kita.

Kalo udah tau bagaimana, kita akan lebih mengerti dan tau apa yg bisa dilakukan ketika sudah menikah. Apa yg harus diperbaiki dan diterima tanpa terbebani oleh apapun.

 

b. Bagaimana dg circle pertemanannya.

Bagaimana gaya komunikasinya, begitupun bagaimana responnya pada saat memiliki problem bersama temannya. Dan yg lebih penting, apakah pertemanannya bisa kita terima atau engga. Meski terlihat sepele, akan tetapi kalo udah ada hal yg gak nyaman, bisa jadi masalah.

 

c. Bagaimana dilingkungan pekerjaannya.

Apakah dia rajin, bisa diandalkan, loyal, bertanggung jawab, moodyan atau ngga. Begitupun, bisa diterima atau ngga sama kita.

 

d. Bagaimana dia menghayati relasi dimasa lalu nya.

Ini berlaku klo pasangan pernah menjalani hubungan dg orang lain sebelumnya.

 

e. Bagaimana perilaku pasangan saat dg kita.

Ini udah jelas. Melihat bagaimana dia mengekspresikan rasa sayangnya, begitupun yg tak kalah penting adalah bagaimana respon yg diberikan pada saat dihadapkan masalah/konflik.

 

f. Bagaimana perilaku dilingkungan sekitarnya.

Bagaimana dia berperilaku pada saat ditempat umum, begitupun melihat bagaimana pasangan dapat membangun relasi/ngobrol dg orang yg baru kenal (ex: tukang dagang, ibu2 warung, dll). Apakah terbangun kesan yg ramah, hangat, ada rasa empati, cuek/jutek, atau mudah kesal.

 

g. Bagaimana dg kehidupan spiritualnya.

Bagaimana dia beribadah, penghayatan dalam berkehidupan, dan hal2 lainnya yg berkaitan dg Tuhan.

 

h. Bagaimana memperlakukan dirinya sendiri.

Ini yang sangat2 penting. Sebelum tau bagaimana dia menyayangi orang lain, harus tau dulu gimana dia memperlakukan diri nya. Apakah dia bisa bertanggung jawab atas dirinya, mengatur hidupnya, dan kebahagiaan dirinya.

 

i. Bagaimana pasangan mengelola keuangan.

Ini bukan matre nya. Tapi dg kita tau cara pasangan dalam mengelola keuangannya, kita jdi tau pengelolaan keuangan yg baik ketika sudah berkehidupan rumah tangga.

Apakah dia boros, bisa menabung, atau sangat pelit. Keterbukaan soal keuangan sangatlah penting. Karena jika tidak dikomunikasikan, bisa jdi masalah nantinya.

 

j. Mengetahui apa yang pasangan sukai.

Apapun itu. Entah hobi nya, kesukaan makanannya, hal yang diobrolin, gaya berpakaian, penampilan, tipe tempat tinggal yg disukai, destinasi tempat yg disukai dan banyak lagi. Kayak sepele, tapi sebenarnya penting. Dengan kita saling tau apa yg disukai, jadinya lebih membangun rasa kecintaan lebih melekat lagi. Bisa membangun support/saling mendukung.

 

k. Mengetahui kondisi fisik pasangan.

Maksudnya adalah... kita harus tau kondisi apakah pasangan kita memiliki riwayat penyakit atau tidak, begitupun apakah perlu perlakuan khusus atau tidak. Jangan sampai kondisi fisik pasanganmu itu membebankanmu, begitupun sebaliknya.

 

Mungkin masih ada lagi hal lainnya yg blm disebutkan.

Ternyata banyak ya, dan gak mudah juga.

Ya kalo nyari nya yg 'baik dan sempurna' pasti susah.

Pertimbangkan jika ada beberapa kekurangan dipasangan tapi  bisa ditoleransi/dimaklum, lanjut aja selagi masih nyaman dan gak jd masalah besar buat kamu.

 

2. Selesaikan dulu urusanmu sebelum menikah.

Maksudnya?

Urusanmu itu adalah tentang masa lalumu, tentang rasa trauma mu, penyesalanmu, rasa kecewamu, rasa kesepianmu, dan rasa ketidak percaya-an dirimu / kePEDE an mu, terlepas dg siapapun itu.

Pastikan kamu sudah memaafkan apa yg sdh terjadi dimasa lalu begitupun memaafkan dirimu sendiri.

Jika urusanmu itu dibawa kejenjang pernikahan, akan terasa sulit. Karena urusanmu itu tidak bisa diselesaikan oleh pasanganmu. Itu adalah tanggung jawab dirimu sendiri.

Ketika sudah menikah, tanggung jawabmu bertambah, urusan bertambah. Jangan karena urusanmu sendiri belum selesai, itu akan mengenyampingkan urusan pernikahanmu yg tak kalah penting. Bahkan lebih penting.

 

3. Menikah bukan untuk bahagia.

Menikah itu adalah untuk belajar lebih keras lagi. Dengan belajar, hidup menjadi lebih terarah dan berarti. Ketika melaluinya bersama pasangan, hasilnya menjadi lebih bermakna lagi. Saling menopang satu sama lain, bisa menjadi keniscayaan untuk bisa saling mendorong ke arah yg lebih baik atas ridho Illahi.

Menikah untuk mencapai kebahagiaan ❌

Menikah untuk mencapai keberkahan ✔

Kebahagiaan sama hal nya seperti kesedihan, kemarahan, kegelisahan, dan perasaan2 lainnya. Dimana perasaan bersifat sementara dan dapat datang silih berganti. Kebahagiaan didapat dalam kondisi tertentu.

Sedangkan,

Keberkahan merupakan suatu keniscayaan yg bisa kita dapatkan dalam kondisi apapun. Perasaan senang, sedih, kecewa, kondisi lapang ataupun sempit, keberkahan akan selalu menyertai apabila apapun yg diusahakan memiliki nilai kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

 ...

Selanjutnya untuk yg sudah menikah:

- Harus siap kalo kamu akan menghadapi pembelajaran yg baru.

- Komunikasi dan saling terbuka. Ajak pasangan untuk berdiskusi jika ada hal yg dirasa perlu validasi dari pasangan. Mungkin adakalanya momen gak pas, gak nyambung, atau terasa kikuk. Tapi, cobalah sedikit demi sedikit sehingga lebih terbiasa dan terbangun saling pengertian.

Intinya, banyakin ngobrol.

- Jangan banyak berekspektasi/berharap. Bukan pesimis, akan tetapi utamakan untuk selalu berpikir realistis/sesuai kenyataan dan kemampuan.

 

- Ketika dihadapkan dg perasaan tak nyaman, bahkan membuat emosional tak tertahankan, ambil dulu jeda. Tarik napas, dan renungkan sejenak. Memang tak mudah. Tapi kalo terlanjur mengekspresikan amarah, jangan berlarut2. Sadari bahwa kemarahan bukanlah tindakan yg bijak dalam menyelesaikan masalah.

 

- Untuk berkembang menjadi lebih baik tidak hanya dilakukan secara bersamaan oleh kedua pasangan/suami istri, akan tetapi akan ada masa dimana salah satunya baik istri atau suami yang bertindak terlebih dahulu/usaha duluan.

Bukan soal siapa yg lebih berkorban, akan tetapi ketika sudah terbangun kesadaran penuh, hal yg mesti dilakukan tidak hanya untuk pasangan, akan tetapi untuk dirimu sendiri juga.

Kalo nunggu pasangan siap, kapan maju nya? Atau bisa aja jadinya gak maju2. So, jangan banyak mikir untuk hal2 baik. Gak bakalan rugi kok. Dijamin.

 

- Jangan hanya bertanya "kamu sayang gak sama aku?", coba ganti dengan "kamu merasa dicintai gak sama aku?".

Dengan begitu, akan semakin terlihat bahasa cinta mana yg bisa diberikan satu sama lain sehingga mengurangi rasa kebingungan begitupun mempertanyakan rasa sayang pasangan. Kitapun lebih tersadar tentang apa yg bisa kita lakukan tanpa harus banyak buang2 waktu.

 

- Jangan pernah membandingkan dg pernikahan orang lain. Udah pasti ga akan sama dan gak bisa disamakan.

 

- Ketika ada konflik, usahakan semaksimal mungkin diselesaikan hanya berdua, dan hanya berdua yang tau.

Beri waktu sampai bisa dibicarakan baik2 dan dg keadaan yg tenang.

Ketika emosimu sdg membuncah, diam sejenak. Jgn terburu2 mengambil tindakan yg sembrono apalagi sampai curhat sana sini, tau mertua, apalagi update status di medsos.

Memang tindakan apapun yg dilakukan itu adalah hak dirimu. Tapi, ketika kita ingin mendapatkan sebuah solusi, kita punya pilihan untuk tetap menjaga privasi kehidupan pernikahan agar tetap aman dan gak jadi bahan gibah orang.

 

- Rencanakan secara matang ketika memutuskan untuk mempunyai anak.

Meskipun kita tidak tau kapan Tuhan memberikan kepercayaan untuk memiliki anak, akan tetapi sebaik2nya adalah dengan mempersiapkan diri. Tak jarang banyak sekali pasangan baru yg memiliki anak masih minim akan perencanaan bagaimana cara mengurus, mendidik, begitupun membangun kedekatan/bonding antara anak dan orang tua.

Mempersiapkan kebutuhan sehari2nya, begitupun pendidikannya.

Jgn sampai kewalahan, karena yg repot siapa lagi kalo bukan kita sendiri. Ketika udah punya anak, fokus kehidupan akan lain lagi. Banyak hal2 yg mesti ditinggalkan. Anak adalah prioritas. Jadi, terus bekali diri dg terus belajar, cepat atau lambat.

 

- Jika terdapat konflik yang sulit diselesaikan berdua, lakukan mediasi dg profesional (psikolog pernikahan atau konsultan pernikahan). Meskipun masih agak tabu, akan tetapi pilihan ini sangat tepat karena masalah akan ditangani dg profesional, dan tidak memihak.

Bukan tidak boleh untuk menceritakan masalah kepada orang2 terdekat, entah itu teman, keluarga, atau orang tua. Akan tetapi, org2 terdekat pasti memiliki cara pandang yang tak selalu bisa kita jalankan, bahkan bisa saja menambah masalah.

Boleh saja, asalkan kamu tau konsekuensinya.

Lain hal lagi kalo pasanganmu melakukan tindakan kekerasan. Baik kekerasan fisik atau kekerasan scra mental. Segera cari bantuan yg mana bisa memberikanmu rasa aman, bukan rasa takut, terancam, bahkan dianggap sepele.

 

- Selalu hadirkan Tuhanmu. Tidak dipungkiri bahwa pedoman agama menjadi pondasi yang kuat dalam menjalankan kehidupan pernikahan. Dg agama, kita menjadi lebih terarah, lebih sadar diri, dan membuat kita gak banyak mikir macem2 yg bikin tambah stres. Kita harus tau, bahwa ibadah yg terlama adalah ibadah menikah. Percaya bahwa amalan yg kita lakukan demi kemaslahatan dalam pernikahan, insyaallah akan selalu diberkahi.

 

- Pahami makna sakinah mawaddah warohmah. Jangan hanya dijadikan template saja untuk pasangan2 yg baru menikah, akan tetapi pelajari juga apa artinya. Karena apapun yg dilakukan pada saat sudah menikah, tujuannya harus kesana. Maka dari itu, pelajari maknanya.

Ini arti secara umum:

- Sakinah : tercapainya ketenangan

- Mawadah : penuh cinta kasih, tiada keraguan

- Warohmah : penuh dg rahmat dari Allah SWT

Memberikan kebermanfaatan bagi orang yang mencinta, serta memberikan kebermanfaatan bagi orang yang dicinta.

...

Adanya pernikahan adalah suatu keniscayaan agar keberlangsungan hidup menjadi lebih baik dan berarti.

Mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang, diterima sebagai manusia yg berharga, adalah kebutuhan dasar dari manusia itu sendiri.

Dan..

Memenuhi kebutuhan itu kita bisa dapatkan pertama kali adalah dari keluarga. 

Maka dari itu, ketika ingin membangun kehidupan pernikahan begitupun berkeluarga, penuhilah dg cinta kasih.

Jangan sampai karena memaksakan diri, pada akhirnya dipenuhi dg keegoisan dan kehidupan pernikahanpun terasa gersang. Ketika mempunyai anak, darimana ia akan memenuhi kebutuhan rasa cinta dan kasih sayang nya?

Pernikahan terwujud untuk memberikan kebermanfaatan satu sama lain serta mendorong kita menjadi pribadi yang lebih berdaya dan utuh. Serta menghadirkan generasi penerus yang cemerlang.

Jika kita ingin dihormati, dihargai dan dimuliakan didunia ini, maka bangunlah untuk...

Saling menghormati, saling menghargai, dan saling memuliakan.

Dan... semua itu bisa kita usahakan dengan kita terus belajar, dan cari ilmunya. Gak ada kata berhenti utk belajar. 

Tak ada kata terlalu cepat, atau terlalu lambat. Semua akan hadir diwaktu yg tepat. 

Terakhir..

Bangun support system/dukungan dg orang2 sekitar begitupun keluarga.

Beri pemahaman sedikit demi sedikit agar apapun keputusan/tindakan kita bisa diterima dan dimengerti. Bukan berarti menggurui, atau terkesan mementingkan diri, akan tetapi keterbukaan dan saling memberikan pengetahuan/pengertian yg baik, adalah suatu bentuk dari rasa cinta kasih juga.

...

Sekian yang bisa aku share tentang pernikahan yg sejauh ini aku pahami. Atas pemikiranku, pengalamanku, dan apa yg aku pelajari. Aku mempelajarinya karena aku sendiri sebagai seseorang yg sedang menjalani kehidupan rumah tangga.

Pasti banyak kurangnya. Makanya, cari lg referensi lain yg lebih relevan dan lebih memperkaya pengetahuanmu.

Akupun masih terus belajar dan mencari. Gak sampai disini.

Terimakasih ya sudah membaca, semoga mendapatkan hal2 yg positif dari tulisanku ini. Buang hal2 negatifnya ya.

Menulis disini merupakan bentuk aktualisasi diriku.

Mendapatkan pembelajaran berharga sangatlah berarti jika mampu dituangkan baik secara pemahaman maupun perilaku. Dan keterbukaan diri untuk terus belajar lagi dan lagi.

 

Referensiku :

- Roslina Verauli (Psikolog klinis, Psikolog keluarga)

- Hasan Askari (Psikolog, Influencer)

- Indra Noveldy (Konsultan Pernikahan)

- Rabbitholeid (Media edukasi Parenting)

 

Sincerely,

Widia Novianti 🥰

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membentuk Kesiapan Mental Anak Muda

Kemerdekaan Diri